Semi Artificial Breeding System (SABS) merupakan inovasi konservasi keanekaragaman hayati yang dikembangkan oleh PT Pertamina Patra Niaga Unit Plaju untuk mendukung pengembangbiakan Belida Lopis (Chitala lopis) melalui integrasi teknologi reproduksi, sistem resirkulasi air, dan keterlibatan masyarakat dalam penyediaan pakan hidup. Program ini dikembangkan sebagai upaya penyempurnaan sistem konservasi ex-situ yang sebelumnya masih mengandalkan pemijahan alami, menggunakan sistem pemeliharaan konvensional, serta bergantung pada pasokan pakan hidup dari pihak luar.
Pengembangan program dilatarbelakangi oleh tantangan reproduksi Belida Lopis dalam kegiatan konservasi. Sebelum inovasi diterapkan, jumlah telur yang dihasilkan berkisar 300–500 butir per pemijahan, dengan Survival Rate (SR) sebesar 40% dan mortalitas larva sebesar 60%. Proses pemijahan juga belum terdokumentasi secara optimal sehingga produksi benih belum dapat dilakukan secara terjadwal. Dari sisi pemeliharaan, sistem sebelumnya belum menggunakan Recirculating Aquaculture System (RAS), sedangkan penyediaan pakan hidup masih bergantung pada pihak luar. Kondisi tersebut menjadi dasar pengembangan pendekatan konservasi yang mengintegrasikan perbaikan sistem reproduksi, pengelolaan kualitas air, dan penyediaan pakan secara lebih berkelanjutan.
Melalui SABS, proses reproduksi Belida Lopis dikembangkan menggunakan induksi hormon Gonadotropin-Releasing Hormone (GnRH) yang dipadukan dengan sistem RAS. Tahapan pelaksanaan dimulai dari seleksi indukan berdasarkan kriteria reproduksi, pemberian induksi hormon sesuai dosis yang ditetapkan berdasarkan hasil kajian, serta pemeliharaan indukan dalam sistem RAS yang dilengkapi filtrasi dan resirkulasi air. Sistem ini mendukung pengelolaan media pemeliharaan selama proses pematangan gonad, pemijahan, penetasan telur, hingga pemeliharaan larva. Dengan pendekatan tersebut, proses reproduksi tidak hanya mengandalkan mekanisme alami, tetapi didukung oleh penerapan teknologi dan pengelolaan pemeliharaan yang lebih terstruktur.
Pelaksanaan program didukung oleh dua lokasi konservasi dan penelitian yang saling melengkapi. Lokasi pertama berada di Kampus C Fakultas Perikanan Universitas PGRI Palembang, Jalan Sakti Wiratama RT 8 RW 2, Kelurahan Srimulya, Kecamatan Sematang Borang, Kota Palembang, Sumatera Selatan, dengan titik koordinat 2,944314° LS dan 104,806193° BT serta luas area sekitar 500 m². Lokasi ini mendukung kegiatan budidaya, pemeliharaan, dan pengembangan konservasi ikan Belida Lopis.
Lokasi kedua berada di Pusat Riset Konservasi Sumber Daya Laut dan Perairan Darat, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kawasan Sains dan Teknologi Dr. (H.C.) Ir. H. Soekarno, Jalan Raya Jakarta–Bogor KM 46, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dengan titik koordinat 6,496003° LS dan 106,849371° BT. Lokasi ini mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi reproduksi ikan Belida. Melalui kolaborasi antara perusahaan, BRIN, dan Universitas PGRI Palembang, kedua lokasi tersebut menjadi bagian dari pengembangan teknologi reproduksi dan penguatan konservasi ex-situ Belida Lopis.
Penerapan SABS menunjukkan perubahan terukur pada hasil reproduksi dan kondisi media pemeliharaan. Berdasarkan laporan implementasi, jumlah telur meningkat dari 300–500 butir menjadi 1.010–1.111 butir per pemijahan. Survival Rate (SR) meningkat dari 40% menjadi 52,34%, sedangkan mortalitas larva menurun dari 60% menjadi 47,55%. Frekuensi pemijahan setelah penerapan inovasi tercatat sebanyak 7–8 kali per tahun.
Pada aspek kualitas air, hasil pemantauan menunjukkan nilai Dissolved Oxygen (DO) meningkat dari 3,7 mg/L menjadi 10,2 mg/L, Total Dissolved Solids (TDS) berubah dari 100 mg/L menjadi 54,83 mg/L, pH meningkat dari 7,17 menjadi 8,48, serta suhu berubah dari 29,25°C menjadi 27,4°C. Perubahan parameter tersebut menjadi bagian dari evaluasi pengelolaan media pemeliharaan selama implementasi sistem SABS.
Keunggulan program ini juga terletak pada integrasi konservasi dengan pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan Community-Based Live Feeding System. Sebelum program dikembangkan, kebutuhan pakan hidup indukan masih dipenuhi melalui pembelian dari pihak luar. Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, perusahaan bersama mitra terkait memberikan pelatihan budidaya pakan hidup kepada masyarakat sekitar. Hasil budidaya selanjutnya dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pakan indukan Belida Lopis. Pendekatan ini membuka ruang keterlibatan masyarakat dalam kegiatan konservasi sekaligus meningkatkan kapasitas mereka dalam budidaya pakan hidup.
Pelaksanaan program dilakukan melalui kolaborasi dengan BRIN dalam pengembangan aspek teknis reproduksi dan penelitian konservasi, serta keterlibatan Universitas PGRI Palembang dan masyarakat dalam mendukung kegiatan budidaya dan penyediaan pakan. Sinergi tersebut menghubungkan penerapan teknologi, pengembangan ilmu pengetahuan, pengelolaan satwa, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu sistem konservasi ex-situ. Berdasarkan laporan program, pelaksanaan inovasi didukung oleh anggaran sebesar Rp205.000.000 yang mencakup kebutuhan peralatan dan bahan penelitian reproduksi, pakan indukan, pengadaan indukan, analisis nutrisi, serta dukungan kegiatan riset.
Dari aspek keanekaragaman hayati, hasil pemantauan menunjukkan jumlah ikan yang tercatat meningkat dari 44 individu pada tahun 2025 menjadi 48 individu hingga Juni 2026. Jumlah tersebut terdiri atas Belida Lopis dewasa, Belida Lopis anakan, dan Belida Jawa atau Putak (Notopterus notopterus). Indeks keanekaragaman hayati (H’) yang tercatat dalam laporan meningkat dari 0,9681 pada tahun 2025 menjadi 1,0072 pada tahun 2026. Data tersebut menjadi bagian dari pemantauan perkembangan koleksi ikan di fasilitas konservasi dan bahan evaluasi pengelolaan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.
Melalui SABS, PT Pertamina Patra Niaga Unit Plaju berupaya mengembangkan konservasi Belida Lopis yang tidak hanya berfokus pada pemeliharaan satwa, tetapi juga pada peningkatan kapasitas reproduksi, pengelolaan kualitas air melalui sistem resirkulasi, dan pembentukan sistem pendukung yang melibatkan masyarakat. Integrasi induksi hormon GnRH, sistem RAS, dan penyediaan pakan hidup berbasis masyarakat menjadi pendekatan untuk memperkuat pengelolaan konservasi ex-situ serta mendukung pelestarian sumber daya genetik Belida Lopis. Program ini diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari kontribusi perusahaan dalam perlindungan keanekaragaman hayati perairan Indonesia.